Sabtu, 25 Juli 2015

Food Blogger

Pada era ini banyak sekali pecinta makanan yang mengunggah pengalaman mereka dengan makanan-makanan yang unik dan menarik ke social media sampai akhirnya hobby ini dijadikan sebagai bisnis baru. Mereka ini disebut sebagai food blogger. Bisnis ini juga dapat sebagai ajang promosi sebuah restaurant untuk memikat para konsumen agar datang ke restaurant mereka. Biasanya food blogger ini menilai dari segi rasa dan penampilan makanan tersebut. Tak lupa juga mereka menilai ruangan-ruangan yang ada pada restaurant tersebut.

Keberadaan mereka ini sangat membantu kita semua, terutama kita dapat melihat review restaurant yang ingin kita kunjungi dan juga kita dapat mengetahui restaurant-restaurant baru atau restaurant yang sedang booming di masyarakat.

Pada saat ini juga banyak bermunculan restaurant yang bertema unik, contohnya Shirokuma yang terletak di Pantai Indah Kapuk. Shirokuma menyajikan ice cream dengan bentuk yang menarik sehingga para konsumen tertarik untuk datang dan mencoba menu ice cream di sana. Tak hanya Shirokuma, masih banyak tempat-tempat makan unik yang terdapat di Pantai Indah Kapuk. Contohnya, North Pole, Shirayuki, The Playroom, WOOYOO dan lain-lain.

Shirokuma
The Playroom
Shirayuki
WOOYOO
North Pole
Itulah beberapa restaurant unik yang sedang booming saat ini, tertarik menjadi food blogger?

Goes To Malaysia (Bukit Bintang-Melacca)

Beberapa hari yang lalu saya dan keluarga saya menyempatkan diri untuk liburan di negara tetangga kita, yaitu Malaysia. Disana saya menemukan tradisi-tradisi mereka yang unik dan menarik. Dalam postingan kali ini saya akan membagikan pengalaman saya selama berada di sana. Tak lupa saya sempat memotret pemandangan-pemandangan yang menarik seperti biasanya.

Saya menginap di Bukit Bintang selama 2 malam dan melanjutkan ke Melacca 2 malam. Di Bukit Bintang anda dapat menemukan banyak sekali pusat perbelanjaan seperti KLCC, Sungei Wang, Pavilion dll. Pada malam harinya kita dapat pergi ke Jl. Alor. Suatu jalan besar yang menjual banyak makanan dan pernak-pernik.

Di Malacca kami menemukan budaya-budaya yang unik dan tempat-tempat yang unik. contoh nya seperti ini.



Jalanan Melacca di pagi hari.

Di Jonker Walk terdapat pasar malam yang hanya
buka pada hari jumat-sabtu pada malam hari.

Sepanjang jalan Jonker Walk dihiasi oleh lampion-lampion.

Saya menginap di The Baba House hotel, foto di atas
merupakan lobby dari hotel tersebut.
 Tempat-tempat wisata di Melacca yang banyak didatangi oleh wisatawan:





Kita dapat melihat pemandangan kota Melacca dengan menaiki Menara Taming Sari  seperti di bawah ini.
Menara Taming Sari


Itulah trip saya kali ini, semoga dapat bermanfaat bagi kalian semua :)


Senin, 13 Juli 2015

SEA Aquarium Singapore

Beberapa minggu yang lalu saya dan keluarga saya sempat berlibur di negara Singapore dan mengunjungi SEA Aquarium yang terletak di pulau Sentosa. Disana saya mendapatkan beberapa hasil jepretan foto dengan kamera yang saya bawa. Terdapat berbagai macam spesies mulai dari ikan hias, ikan hiu, lumba-lumba dan masih banyak lagi. Ikan-ikan yang ada di sini yang sangat bagus untuk dijadikan objek foto. Berikut beberapa foto yang akan saya bagikan:






Saya mengambil foto-foto diatas dengan kamera Canon 1100D. Saya sendiri belum terlalu mahir menggunakan kamera DSLR/SLR dan masih dalam tahap belajar. Itu dia beberapa hasil jepretan saya. Semoga kalian semua suka dan terima kasih telah mengunjungi blog saya!

Perbedaan Kamera DLSR/SLR Dengan Kamera Mirrorless

Kamera SLR (Single lens reflex) merupakan jenis kamera yang telah ada selama lebih dari seratus tahun. Seperti pendahulunya yang berbasis film, DSLR (Digital SLR) masih menggunakan cermin untuk memantulkan cahaya dari lensa ke viewfinder (jendela bidik) sehingga kita akan melihat persis apa yang dilihat kamera secara optikal. Bila kita mengambil gambar, cermin tersebut akan naik dengan cepat, shutter (rana) di depan sensor gambar terbuka, dan cahaya akan mengenai sensor sehingga bisa dilakukan pengambilan gambar. Setelah itu cermin dengan cepat akan kembali ke posisi semula untuk menampilkan objek di viewfinder.
Sedangkan kamera mirrorless, seperti namanya, tidak perlu cermin. Cahaya akan melewati lensa dan langsung jatuh tepat ke sensor gambar, seperti dalam kamera kompak dan smartphone. Gambar obyek akan ditampilkan pada layar LCD atau elektronik vewfinder setelah itu baru menekan tombol shutter dan gambar/foto tersimpan.

Ukuran dan Berat

Badan kamera DSLR secara umum relatif lebih besar, karena mereka harus memiliki ruang untuk cermin dan mekanisme shutter. Tetapi kondisi terakhir DSLR sudah cukup kecil, yang terkecil dan teringan yang tersedia adalah Canon EOS 100D, yang beratnya sekitar 600gram, dengan lensa zoom kit terpasang. Tetapi harganya sepertinya agak mahal untuk kamera entri-level (pemula). Sebuah model yang lebih ekonomis, Canon EOS 700D dengan berat 710 gram. Sebuah model dengan level di atasnya lagi seperti Nikon D7100 hampir dua kali lebih berat yaitu 1,2 kg atau lebih, tergantung pada lensa yang digunakan.
Sementara kamera mirrorless tidak memiliki cermin dan mekanik shutter, sehingga bodi kamera mirrorless bisa lebih kecil dari DSLR, dan memiliki konstruksi yang sederhana. Sebuah kamera mirrorless khas seperti Olympus PEN-EPL5 beratnya hanya kurang dari 450 gram termasuk lensa. Sementara kamera mirrorless terkecil Panasonic Lumix GM1 hanya seberat 204 gram dan berukuran persis kamera kompak sehingga benar-benar bisa dikantongi.
Disini Anda harus mengetahui kebutuhan, apakah bisa menerima beban yang lebih berat, karena biasanya setelah sekian lama orang akan malas membawa kamera yang berat. Atau justru ingin kamera yang mudah dibawa kemana saja tanpa khawatir membebani.

Kemampuan dan Akurasi Fokus

Kamera DSLR menggunakan mekanisme cermin untuk mengalihkan cahaya ke sensor khusus yang digunakan dalam proses yang disebut Phase Detect Auto Focus (PDAF). Sensor mengukur konvergensi dari dua berkas cahaya untuk dengan cepat mengkondisikan lensa ke dalam fokus.
Sementara karena tidak memiliki cermin, kebanyakan kamera mirrorless harus menggunakan teknik yang relatif lebih lambat, yang disebut Contrast Detect Auto Focus (CDAF) – metode yang sama yang digunakan oleh kamera point-and-shoot dan kamera di smartphone. Sensor gambar menangkap satu bagian kecil dari gambar yg di sedang dibidik, melakukan tes seberapa tajam itu, dan kemudian refokus lensa dan tes lagi sampai mendapatkan fokus yang paling tepat. Deteksi kontras sangat lambat dalam cahaya rendah dan dengan subyek bergerak, karena gerakan objek yang cepat membingungkan kamera.
Tetapi Kamera mirrorless terbaru, seperti Olympus OM-D EM-1, memiliki prosesor yang lebih cepat yang dapat mendeteksi kontras lebih cepat, sehingga mereka bisa fokus secepat DSLR, meski untuk foto sport CDAF belum bisa menyamai PDAF. Bahkan model kamera mirrorless yang baru akhir-akhir ini memiliki teknologi yang menggunakan satu sensor untuk menggabungkan kedua teknik auto fokus PDAF dan CDAF. Tapi masih belum jelas seberapa baik model-model baru tersebut dibanding DSLR.

Kualitas Viewfinder

Sisi positif dari viewfinder DSLR adalah bahwa Anda dapat melihat gambar secara optikal langsung, biasanya lebih jernih, responsif dan lebih cerah dibandingkan elektronik. Sementara kamera mirrorless harus menangkap preview gambar pada layar LCD dan atau elektronik viewfinder (EVF). Untuk LCD kadang di siang hari yang cerah agak susah untuk dilihat. Tetapi EFV generasi sekarang sudah jauh baik, responsif, cerah dan keuntungannya adalah preview gambar yang tampil sama dengan yang akan disimpan nantinya dan banyak informasi yang bisa ditampilkan seperti historgram.
Tidak semua kamera mirrorless memiliki EVF, hanya sebagian di kelas high-end seperti Panasonic GX7, Panasonic GH3, Fujifilm X-E1, X-Pro1, Sony NEX-7, Sony A-7 dan A-7R. Semakin lama diyakini teknologi EVF akan semakin baik, sehingga akan mampu menyamai kejernihan optical viewfinder dengan ukuran dan kebutuhan ruang yang jauh lebih kecil.

Image Stabilization

Semua kamera modern memasukkan fitur stabilisasi gambar, di mana akan mengurangi blur pada foto (umumnya pada kecepatan rana lambat) yang disebabkan tangan yang bergoyang saat memegang kamera. Baik kamera DSLR maupun mirrorless, melakukan ini dengan teknik menggeser sebagian kecil bagian dari optik lensa, teknik lainnya adalah menggeser sensor gambar utama.
Beberapa kamera mirrorless dapat menggeser kedua elemen lensa dan sensor gambar – kombinasi yang dapat lebih efektif daripada salah satu dari metode ini saja. Yang paling baru dalam teknologi ini adalah 5-Azis Image stabilization yang ditanam Olympus pertama kali di OM-D E-M5, yang memperhitungkan pergerakan sensor pada sumbu Z selain X dan Y. Hasilnya hingga 2 stop lebih baik saat menggunakan tangan.

Kualitas Gambar

Kamera mirrorless awalnya menawarkan gambar berkualitas lebih rendah daripada DSLR, dengan lebih banyak noise (graininess) dan warna yang lebih buruk, karena generasi pertama menggunakan sensor gambar yang lebih kecil yang menangkap cahaya kurang. Namun produsen kamera mirrorless telah menemukan cara untuk mengurangi noise, menggunakan sensor yang lebih baik (dan juga lebih besar) dan prosesor gambar yang lebih baik, dan sekarang tidak ada perbedaan nyata dalam kualitas gambar dalam kebanyakan model konsumer.
DSLR high-end menggunakan sensor yang sangat besar yang disebut “full frame” sensor yang telah memberikan mereka keunggulan high end. Baru-baru ini Sony mengenalkan kamera mirrorless dengan sensor full-frame, yaitu A7 dan A7R, hal ini menjadi langkah penting dalam menutup kesenjangan kualitas dan bahkan kinerja antara DSLR dan mirrorless.

Gambar dan Video Playback

Ketika datang untuk menampilkan gambar yang baru saja ditangkap, kedua jenis kamera dapat menggunakan layar LCD atau output HDMI ke televisi Anda. Meskipun body kamera mirrorless lebih kecil, sebagian besar memiliki ukuran layar LCD yang sama yaitu 3-inch, yang umum ditemukan di DSLR.

Lensa dan Aksesoris

Jika Anda ingin membeli kamera dengan lensa dapat dipertukarkan, artinya Anda membeli ekosistem seluruh lensa, dan juga aksesoris lainnya yang cocok. Anda tidak dapat menggunakan lensa Micro Four Thirds (MFT) pada body kamera DSLR body. Jadi, ketika memilih kamera, perlu mempertimbangkan berbagai lensa yang tersedia untuk sistem.
Memilih DSLR memberi akses ke sejumlah besar jenis lensa – dari sejumlah produsen – mulai dari yang murah hingga untuk profesional dan mahal. Sebaliknya, kebanyakan model mirrorless hanya memiliki sedikit pilihan lensa dari produsen kamera. Satu-satunya lensa untuk kamera Sony Alpha NEX berasal dari Sony itu sendiri, misalnya. Namun, Sony baru saja mengumumkan lima lensa baru untuk kamera mirrorless full-frame baru, yang sangat memperluas jangkauan lensa yang tersedia.
Sistem mirrorless dari produsen seperti Pentax (Q kamera) dan Samsung (seri NX) memiliki lensa paling sedikit, karena perusahaan-perusahaan ini memilih untuk membuat sistem mirrorless sendiri-sendiri. Sistem Micro Four Thirds memiliki pilihan terluas karena mereka adalah pionir dan dibentuk oleh beberapa perusahaan – Olympus dan Panasonic membuat kamera, dan lensa dibuat oleh Olympus, Panasonic, Sigma, Tamron dan lain-lain.
Anda dapat membeli adapter untuk menggunakan lensa DSLR pada kamera mirrorless. Tapi akan mengubah zoom (focal length) berdasarkan crop factor, dan juga akan menonaktifkan fitur seperti autofocus.

Semoga bermanfaat!

Macam-macam Lensa Untuk SLR dan DSLR

1. Lensa Kit

Lensa kit adalah salah satu lensa yang cukup populer dan banyak digunakan pengguna kamera DSLR. Hal ini lantaran lensa ini biasa dijual satu paket dengan produk kamera dan sepertinya sangat efektif untuk belajar fotografi bagi pemula. Karena merupaka lensa bawaan, ada banyak kelemahan dan kekurangan meskipun itu bisa diminimalisir.

2. Lensa Wide Agle
Lensa Wide angle mampu memuat gambar dengan sudut yang sangat lebar hanya dalam 1 frame, sehingga sangat cocok untuk fotografi Landscape.
Fungsi lensa wide angle adalah untuk mengabadikan gambar yang memiliki sudut pandang yang luas, dengan lensa tersebut kita akan mendapatkan lebih dibandingkan dengan lensa normal/lensa jenis lain. Lensa Wide Angle tersedia dalam berbagai pilihan focal length. Focal length tersebut bervariasi, mulai dari Medium Wide Angle, Yang memberikan sudut pandang lebih lebar daripada normal, sampai dengan extreme wide angle yang mampu mengabadikan landscape selebar pandangan mata manusia, dan gambar yang dihasilkan biasanya melengkung.

3. Lensa Tele
Lensa tele merupakan kebalikan dari lensa Wide Angle. Fungsi lensa ini untuk mendekatkan subjek, namun mempersempit sudut pandang. Yang termasuk lensa tele adalah lensa berukuran 70 mm ke atas. Karena sudut pandangannya sempit, lensa tele akan mengaburkan pandangan sekitarnya. Namun, hal ini tidak menjadi masalah karenan lensa tele memang di gunakan untuk mendekatkan pandangan dan memfokuskan pada objek yang di tujunya. Lensa ini digunakan oleh fotografer unutk untuk memotret objek dari jarak jauh, seperti foto candid atau landscape.

4. Lensa Variabel

Lensa variabel atau sering disalahkaprahkan dengan lensa zoom adalah lensa khusus dengan jarak fokus yang bisa diubah-ubah. Pengaruh penggunaan lensa variabel adalah lebar sudut pengambilan gambar, atau dalam istilah awam perbesaran, bisa diatur sesuai kebutuhan tanpa harus mengganti-ganti lensa.


Proses pengubahan panjang focal lensa saat pengambilan gambar sering disebut dengan cropping atauzooming. Perubahan dari focal pendek ke focal yang lebih banyak disebut zooming in, yang akan mengakibatkan obyek nampak lebih besar (kesan dekat). Sedangkan perubahan dari focal panjang ke focal yang lebih pendek disebut zooming out, yang akan mengakibatkan obyek nampak lebih kecil (kesan jauh).
Saat teknik ini diterapkan dalam satu kali pajanan, akan menghasilkan efek seperti berlari.
5. Lensa Super Zoom
Lensa superzoom (superzoom lenshyperzoom lens) adalah lensa fotografi dengan faktor panjang fokus (focal length factor) yang sangat besar, lebih besar dari 4x.
Faktor panjang fokus dapat berkisar hingga 15x zoom pada kamera refleks lensa tunggal dan 26x pada kamera digital, hingga 100x pada kamera televisi profesional.
6. Lensa Makro
Lensa Makro adalah lensa yang didesain khusus untuk memotret benda berukuran kecil seperti serangga dan bunga. Lensa ini sangat optimal melakukan fokus dalam jarak yang sangat dekat. Banyak produsen yang telah menawarkan berbagai macam lensa makro, namun dalam artikel ini khusus akan dibahas lensa makro milik canon. Berbicara tentang lensa tentu tak lepas dari yang namanya crop factor:baca pengertian crop factor untuk memperjelas. Sebuah lensa bisa dikatakan lensa makro bila memiliki rasio perbesaran/macnification Ratio 1:1(sesuai gambar aslinya), namun beberapa lensa zoom diklaim mempunyai angka perbesaran tersebut, sedang kenyataannya mereka hanya memiliki rasio perbesaran 1:3 atau 1/3 gambar aslinya. Lensa makro memiliki rasio pembesaran antara lain : 1:1,2:1,3:1(berarti 3x lebih besar dari ukuran aslinya).

Semoga bermafaat!

Noise Dalam Fotografi

Noise


Noise adalah efek samping dari penggunaan sensor elektronik yang dipakai untuk mengumpulkan cahaya. Ibaratnya kalau anda memanen padi, noise adalah kulit padi sementara beras adalah fotonya. Dia adalah sesuatu yang tidak diinginkan, namun akan selalu muncul sebagai akibat dari ketidaksempurnaan kinerja sensor. Noise pada foto ditengarai sebagai penyebab berkurangnya detail dan tampak tidak enak dilihat.
Namun dengan kemajuan teknologi sensor digital, noise bisa mulai ditekan seminimal mungkin. Kalau anda memegang kamera DSLR atau mirrorless yang memiliki sensor minimal APS-C, tentu sudah terbisa menggunakan ISO 3200 atau bahkan lebih dan tidak terlalu merasakan noise. Hal itu tidak erbayangkan 5 tahun lalu.
Noise pada foto digital tersusun atas dua elemen: didalam warna (chroma noise) dan dalam gelap terang. Noise dalam warna biasa disebut chroma noise dan secara visual memiliki efek membuat foto tampak lebih tidak enak dilihat. Noise dalam gelap terang biasa disebut luminance noise.

Karakteristik Noise Pada Foto Digital

Noise dalam foto digital:
Noise foto digital
Luminance noise:
Luminance noise foto digital
Chroma noise:
Chroma noise foto digital
Semoga bermanfaat!

ISO Dalam Photography

Secara definisi ISO adalah ukuran tingkat sensifitas sensor kamera terhadap cahaya. Semakin tinggi setting ISO kita maka semakin sensitif sensor terhada cahaya.

Untuk mendapatkan gambaran yang jelas tentang setting ISO di kamera kita (ASA dalam kasus fotografi film), coba bayangkan mengenai sebuah komunitas lebah.
  • Sebuah ISO adalah sebuah lebah pekerja. Jika kamera saya set di ISO 100, artinya saya memiliki 100 lebah pekerja.
  • Dan jika kamera saya set di ISO 200 artinya saya memiliki 200 lebah pekerja.
Tugas setiap lebah pekerja adalah memungut cahaya yang masuk melalui lensa kamera dan membuat gambar. Jika kita menggunakan lensa identik dan aperture sama-sama kita set di f/3.5 namun saya set ISO di 200 sementara anda 100 (bayangkan lagi tentang lebah pekerja), maka gambar punya siapakah yang akan lebih cepat selesai?
  • Saat kita menambah setting ISO dari 100 ke 200 (dalam aperture yang selalu konstan – kita kunci aperture di f/3.5 atau melalui mode Aperture Priority – A atau Av), kita mempersingkat waktu yang dibutuhkan dalam pembuatan sebuah foto di sensor kamera kita sampai separuhnya (2 kali lebih cepat), dari shutter speed 1/125 ke 1/250 detik.
  • Saat kita menambah lagi ISO ke 400, kita memangkas waktu pembuatan foto sampai separuhnya lagi: 1/500 detik.
  • Setiap kali mempersingkat waktu esksposur sebanyak separuh, kita namakan menaikkan esksposur sebesar 1 stop.
Semoga bermanfaat!